Selasa, 18 Agustus 2015

DI RUMAHMU

 
 
 
Kupenuhi panggilanMu Ya Rabb....
 
Baitullah kini tepat didepanku
 
Impian setiap muslim di bumi ini
 
Gemetar saat kutatap setiap waktu
 
Ratusan ribu...mungkin pula jutaan manusia
 
bersujud saat ini didepan rumahMu
 
Bercampur tangis haru...rindu...takjub
 
Seperti tak percaya...
 
Bahwa didepan itu adalah rumahMu...!
 
Yang selama ini menjadi arah sujudku
 
Subhanallah....
 
 
 
Kupenuhi panggilanMu Ya Rabb....
 
Kini aku larut dalam sujud karena kebesaranMu
 
Bumi tempat kutenggelamkan wajah
 
Seakan ikut membacakan uraian perjalanan
 
Yang pernah kulakukan selama ini
 
Kugapai megahnya Multazam ...
 
Berebut dengan ribuan tangan anak manusia
 
Berdesakan dengan tubuh-tubuh berpeluh yang tak mudah menyerah
 
Takut....merinding....sesal ....sungguh tertanam dalam hati
 
Karena ternyata aku pernah mengabaikanMu
 
Astaghfirullah....
 
 
 
Kupenuhi panggilanMu Ya Rabb....
 
Dengan Thawaf kukelilingi rumahMu
 
Berdoa sebanyak langkah kakiku
 
Hijr Ismail  tempat terdekat untuk Sholat
 
Bersujud ...berdoa...dan memohon ampun hanya kepadaMu
 
Lalu dibalik Maqom Ibrahim...
 
Tilawah mengalun merdu
 
Menyempurnakan rangkaian ibadahku
 
Saat ini Ya Rabb...
 
Aku menjadi bagian dari jutaan manusia
 
Yang tak segan berbagi sedikit tempat
 
Untuk dapat bersujud langsung
 
Sambil menatap rumahMu
 
 
 
Ya Rabb....
 
Begitu kokoh dan megah rumahMu
 
Berakar ke pusat bumi...menjulang ke langit
 
Berdiri ramah di tengah Masjidil Haram
 
Menyambut hangat seluruh tamuMu
 
Yang berebut bersujud ke hadapanMu
 
Demi ampunan....Ridho dunia....
 
Keselamatan akherat...!
 
Hanya dariMu....Wahai Tuhanku....
 
Tuhan dari seluruh makhluk yang bernyawa....
 
 
 
Bismillah....
 
Ampuni segala dosaku Ya Rabb....
 
Aku tak lebih besar dari debu dihadapanMu
 
Panggil aku sekali waktu nanti
 
Menghadap di rumahMu lagi
 
Untuk sebuah kerinduan....
 
Yang tak pernah mati sampai ujung usiaku
 
 
 
 
 
 
 
Mekkah, 25 September 2014

Senin, 26 Mei 2014

INIKAH CINTA BUTA...?





Sepertinya berawal dari tak sengaja
Diam-diam bertemu mata
Berjalan berdua jadi terbiasa
Menganggap nihil yang sudah ada
Sembunyi dari pandangan manusia

Sulitnya mengakui kalau itu tak lumrah
Khayalanpun jadi mengada-ada
Padahal menggerogoti hakikat ibadah
Dan amalan yang dibangun sebelumnya
Sungguh aneh …
Bibir sendiri tak berhenti mengucap bacaan Surah
Ditengah amalan puasa tanpa jeda…

Cinta buta malah sering dianggap anugerah
Bukannya salah dan bisa membuat luka keluarga
Berhias bait-bait puisi mesra yang mengalir begitu saja
Menganggap batasan status…usia..itu bukan masalah
Tak sedikitpun terpikir dosa..!
Lupa…setiap sujud masih beralas sajadah
Ditengah usia yang semakin renta

Ketika semakin membara
Teman…keluarga…bahkan Tuhan dilangit sana
Dianggap tak pernah ada
Hanya dia…dia…dan dia semata
Satu-satunya tujuan hidup di dunia
Dan saat dia pergi lagi mengembara entah kemana
Yang ditinggalkan hanya sesal dan luka
Karena sumpah berbusa dari bibir manisnya
Ternyata itu palsu belaka…!

Iman dalam hati terkikis sampai tak tersisa
Padahal cita-cita keluarga Sakinah…
Mawaddah …dan Warahmah
Yang diimpikan saat awal bersumpah menjadi tersia-sia
Kejujuran yang terbangun puluhan tahun runtuh begitu mudah
Karena kebohongan tertumpuk semakin dalam di dada

Cinta buta…
Memang bukanlah cinta biasa
Penuh godaan dan tipu daya
Karena yang nampak indah dan dipuja-puja
Sebenarnya…itu tak lebih dari fatamorgana
Jangan sampai tenggelam didalamnya
Daripada semakin lupa jalan kembali ke rumah




Bogor, 06 April 2014

P E R G I




Lebih seribu purnama kuikuti langkahmu
Sampai aku sendiri kehilangan jejak untuk kembali
Seluruh jalan jadi buntu
Seluruh sinar jadi redup
Hanya sisa senyummu
Tersangkut  jelas diujung pagi itu
Dan menyuruhku pergi menjauhimu...!
Karena ternyata kamu...
Sengaja membenamkan diri
Dilautan angkuhmu...
Yang tak mungkin kuikuti lagi



Medan, 03 Maret 2014

M E M B U N U H M U






Aku pernah ingin membunuhmu
Lalu membakar bayangan tentangmu
Lewat api yang menjadikanmu abu
Dan angin yang membawamu segera pergi

Aku juga pernah ingin membunuhmu
Menguburkan jasadmu dibawah dipanku
Lalu kutaburkan melati putih disetiap waktu
Tanda kita pernah bersatu

Tapi entah kenapa...
Aku tak pernah benar-benar mampu membunuhmu
Karena ternyata kamu hidup dibalik jiwaku
Mengalir dalam tetesan darahku
Berbiak disetiap doaku
Begitu adanya selalu...

Dan kamulah satu-satunya...
Bayangan yang sulit kubunuh...




Calang, 10 Oktober 2013


Jumat, 29 November 2013

SIAPA AKU...



Ada yang menyebutku batu
Lambang sulitnya berubah
Entah itu teguh...setia...atau memang bodoh
Tak satupun tahu...termasuk aku...!
Ada yang menyebutku kayu
Penawar hangatnya api
Walau tubuh hampir membeku
Energi kehidupan tetap meluap-luap
Tapi sayang sesaat kemudian jadi arang
Karena harus larut bersama akhir malam
Ada yang menyebutku embun
Partikel kecil bening penyegar dedaunan
Lalu senyap sebelum mentari terbangun sempurna
Kamu...
Walau selalu bilang kenal aku
Kenyataannya hanya sepintas tentang aku
Bukan sebenar-benarnya aku
Kamu...
Takkan pernah tahu gemetarnya aku
Saat bulan dipuncak pergantian hari
Aku berusaha melawan diri sendiri
Yang digoda masa lalu tak kenal waktu
Nanti...
Saat kamu sadar siapa aku
Mungkin saat itu aku telah pulang ke rumah
Menutup pintu rapat-rapat dan beristirahat
Dari semua ceritaku...ceritamu
...Cerita tentang kita...



Calang - NAD, 21 Mei 2013

DIBALIK PUISIKU



Untuk kamu yang dibalik puisiku
Keluarlah...mumpung matahari belum terbenam
Jangan hanya bersembunyi sepanjang waktu
Saat ini kamulah milyaran huruf...
Jutaan bait ... ribuan paragraf...
Seluruh inspirasi yang tak pernah berhenti
Tapi jangan sampai menjadi tanda titik
Simbol berakhirnya tulisan
Dan matinya harapan ...

Meski tumpukan puisi telah kutulis
Tetap saja dada sesak saat mengingatmu
Sarat kenangan dan angan
Karena kamu satu-satunya jiwa
Dalam setiap puisiku ...

Puisi adalah jalan panjang membentang
Yang takkan pernah tuntas kudaki
Sampai akhir waktu ...



Calang - NAD, 29 September 2013

RINDUKU SELALU



Duh...kenapa ada rindu seperti ini?
Membuatku sulit berkata lagi
Harapkan senyummu
Kenyataannya lama menghilang
Harapkan sapamu
Seperti menunggu bayangan waktu
Andai kutahu sedang apa kau disana
Itu sudah cukup bagiku
Kau...dan aku...
Berjarak rindu...
Yang jauh...

Dimana keberadaanmu kini?
Tak berhenti kucari-cari
Kering suara memanggilmu
Tak sedikitpun kudengar jawabmu
Mungkin kau disangkar emas
Yang selalu mengurungmu
Dan jadi penghalang kita bersatu
Mungkin pula kau tersangkut di mimpi
Yang membuatmu hanya hidup di malamku
Atau...mungkin kau telah menjadi api
Yang membakar beku rinduku selama ini
Dan tak pernah mampu kumiliki
Malam nanti...
Aku ingin menjemput dengan kereta terindah
Lalu menempatkanmu hanya dihatiku
Agar rinduku tak berbiak...selalu



Bogor - Jakarta, 01 Nopember 2013