Jumat, 21 Oktober 2011

SENDIRI LAGI


Kuingat sorot mata lembutmu
Disini...
Dalam kenangan semu
Bekas senyummu kutulis...
Dengan darah yang tak merah lagi
Lalu kupaksakan tetap ada diperjalanan ini
Seperti awan kehilangan langit
...dan sungai yang kehilangan air
Semua jadi tanpa arti...
Haruskah kita biarkan seperti itu?
...
Aku...
Mencoba tetap menari...
Ikuti sisa-sisa nada yang kau tinggalkan disini
Walau itu kenyataannya...sendiri lagi...



Jakarta, 21 Oktober 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

M E N U N G G U




Tahukah kau…?
Demi melampiaskan rindu
Selalu kusebut namamu seusai sujud malam
Saat itu sangat sepi...
Benar-benar terasa sendiri dikegelapan bumi
Tapi bayanganmu tetap benderang menakjubkan..!

Bumi ribuan kali berganti wajah
....melewati fajar, malam menjadi siang
....siang dibekap senja berjumpa malam
Rembulan tak lelah berubah dari purnama ...ke sabit
Musim penghujanpun juga telah berubah kemarau disini
Bahkan waktu, pelan-pelan mengantar usia menjadi lebih tua
...semua berganti...dan akan selalu berganti
Tapi harapanku masih utuh seperti dulu
Menunggumu tanpa henti....!
Seperti yang pernah tersampaikan saat itu...

Kasih...
Betapa lemahnya kita ...
Dibalik ujian yang harus terlalui
Ternyata tak sigap menahan kenyataan
Agar tak secepat itu berubah menjadi kenangan
....seperti yang kini terjadi...
Aku sungguh berharap...
Semoga masih mampu kau eja namaku seperti dulu
Dan semoga aku tidak tersesat diakhir waktu
Karena puisi ini akan selalu  menunjukkan jalan ke muara hatimu

Kasih...
Disaat kau semakin jauh
Sendiri disini aku tetap membayangkanmu
Entah ....kenapa lamunanku itu sulit kubasuh?
Mungkin....
Karena kaulah satu-satunya nadi dalam aliran darahku...!

Oh Cinta ....
Masih pantaskah aku menunggu seperti ini?





Jakarta, 19 Oktober 2011

Senin, 10 Oktober 2011

CERITA CINTA

Aku bukanlah fajarmu
Mungkin bukan pula senjamu nanti
Aku kini beku di mimpiku sendiri
Karena kebisuan membungkam semuanya
sepi...
Tapi aku tetap berusaha menjadi angin
Yang tak berhenti hembuskan setiap pesan
Agar sampai diujung malammu

Ingin kuceritakan tentang luasnya langit
Yang selalu menaungi arah anginku
Tentang bumi...
Yang permukaannya lebih terjal dari kita duga
...dan seharusnya kita lewati tadi
Tapi...
Aku kemudian jadi tahu
Kau tak butuh lagi semua itu
Karena saat ini tak ada lagi cerita
Yang mampu meluluhkan hatimu
....
Dan aku lebih baik menunggu saja disini....
....
Menunggu kemungkinan datangmu
Yang tak pernah kutahu...
...
Bila kau telah puas mengembara
Keriput wajah tua telah mendera
Saat itu...
Takkan kau dengar lagi kata puja seperti biasa
Tubuhpun semakin melemah tanpa daya
.....
Datanglah segera ...
Bersemayamlah disetiap baris puisiku
...Puisi kerinduan tanpa jeda...
Itulah saat kau akan belajar tahu
Ada cinta tak pernah renta...
Yang selama ini tersia-sia...
....



Jakarta, 10 Oktober 2011

W A K T U

Entah...
Kenapa kau tak mampu menghitung sisa waktu
Sekali ini aku bilang...
Telah banyak kunikmati hari mengenangmu
Tak berhenti mengirim pesan rindu disetiap coretanku
Aku juga belum pernah lupa
Saat kau paksakan aku menelusuri satu persatu
Jejak langkahmu yang semakin menjauh
...dan menyisakan sedikit bayangan
...yang tak pernah utuh...!

Mungkin nanti...
Kita perlu sekejap bertemu
Agar dapat kupastikan
Sisa harum parfum-mu
Apa masih seperti dulu?

Kita...
Sungguh berbatas waktu
Tak baik saling menunggu
Itu hanya membuat semakin membeku
Ayo...beritahu aku...
Dimana harus kujemput dirimu
Sebelum wajah tua-ku
Membuat lupa mengeja namamu...

Harapanku...
Semoga...ini bukan kesia-siaan semata
Karena jalan terjal yang terlewati saat itu...
Sebenarnya masih menyisakan lintasan setapak
...diujung waktu kita...
......

Bidadariku...
Jangan sampai terlambat kau pahami
Karena seluruh waktu-pun
Sebentar lagi juga purna
...Bersama akhir perjalanan raga...
Lalu sajak tentang gelapnya malam...
Akan pupus terkubur disamping mimpimu
...
Dan saat itupun kita...
Akan menjadi deretan jasad yang tak lagi bertemu...






Tapin - Kalsel, 6 Oktober 2011