Jumat, 29 November 2013

SIAPA AKU...



Ada yang menyebutku batu
Lambang sulitnya berubah
Entah itu teguh...setia...atau memang bodoh
Tak satupun tahu...termasuk aku...!
Ada yang menyebutku kayu
Penawar hangatnya api
Walau tubuh hampir membeku
Energi kehidupan tetap meluap-luap
Tapi sayang sesaat kemudian jadi arang
Karena harus larut bersama akhir malam
Ada yang menyebutku embun
Partikel kecil bening penyegar dedaunan
Lalu senyap sebelum mentari terbangun sempurna
Kamu...
Walau selalu bilang kenal aku
Kenyataannya hanya sepintas tentang aku
Bukan sebenar-benarnya aku
Kamu...
Takkan pernah tahu gemetarnya aku
Saat bulan dipuncak pergantian hari
Aku berusaha melawan diri sendiri
Yang digoda masa lalu tak kenal waktu
Nanti...
Saat kamu sadar siapa aku
Mungkin saat itu aku telah pulang ke rumah
Menutup pintu rapat-rapat dan beristirahat
Dari semua ceritaku...ceritamu
...Cerita tentang kita...



Calang - NAD, 21 Mei 2013

DIBALIK PUISIKU



Untuk kamu yang dibalik puisiku
Keluarlah...mumpung matahari belum terbenam
Jangan hanya bersembunyi sepanjang waktu
Saat ini kamulah milyaran huruf...
Jutaan bait ... ribuan paragraf...
Seluruh inspirasi yang tak pernah berhenti
Tapi jangan sampai menjadi tanda titik
Simbol berakhirnya tulisan
Dan matinya harapan ...

Meski tumpukan puisi telah kutulis
Tetap saja dada sesak saat mengingatmu
Sarat kenangan dan angan
Karena kamu satu-satunya jiwa
Dalam setiap puisiku ...

Puisi adalah jalan panjang membentang
Yang takkan pernah tuntas kudaki
Sampai akhir waktu ...



Calang - NAD, 29 September 2013

RINDUKU SELALU



Duh...kenapa ada rindu seperti ini?
Membuatku sulit berkata lagi
Harapkan senyummu
Kenyataannya lama menghilang
Harapkan sapamu
Seperti menunggu bayangan waktu
Andai kutahu sedang apa kau disana
Itu sudah cukup bagiku
Kau...dan aku...
Berjarak rindu...
Yang jauh...

Dimana keberadaanmu kini?
Tak berhenti kucari-cari
Kering suara memanggilmu
Tak sedikitpun kudengar jawabmu
Mungkin kau disangkar emas
Yang selalu mengurungmu
Dan jadi penghalang kita bersatu
Mungkin pula kau tersangkut di mimpi
Yang membuatmu hanya hidup di malamku
Atau...mungkin kau telah menjadi api
Yang membakar beku rinduku selama ini
Dan tak pernah mampu kumiliki
Malam nanti...
Aku ingin menjemput dengan kereta terindah
Lalu menempatkanmu hanya dihatiku
Agar rinduku tak berbiak...selalu



Bogor - Jakarta, 01 Nopember 2013

Selasa, 26 November 2013

H U J A N



Hujan malam ini ...
Menutup seluruh muka bumi
Dari tadi aku sendiri disini
Membayangkan derasnya air yang jatuh
Jauh dibalik tetesan hujan itu
Perjalanan masa lalu terbayang jelas
Sangat jelas ...!
Bermuara pada tempatku berdiri
Dan...tentunya disitu ada kamu



Blangpidie - NAD, 11 Juni 2013

Jumat, 22 November 2013

B U N G A U N T U K M U




Terakhir kali kita berjumpa
Aku bawa setangkai bunga
Yang kusimpan sampai saat ini
Kelopak bunga merah menyala
Dengan mahkota putih bersih
Lebih merah dari darahku
Lebih putih dari tulangku
Hanya satu tangkai
Tak pernah ada lainnya
Dan kujaga jangan sampai layu
Kau ingin tahu?
Masuklah ke dalam hatiku
Karena disanalah tersimpan bunga itu
Hanya untukmu....




Bogor, 24 Desember 2012

C E R M I N


Entah apa yang kau rasakan
Bila suatu saat bercermin di air bening itu
Tapi yang terlihat adalah perjalananmu
Yang penuh liku dan misteri tak pernah henti
Wajah aslimu malah tinggal jejak-jejak
Dan tak mampu kau temukan lagi
Mungkin tak pernah kau sadari
Cermin itu harusnya pantulan wajah lembutmu
Senyum manismu
Sorot tajam matamu
Seribu ungkapan tulusmu
Seperti yang sepintas pernah kutahu
Diawal perjumpaan itu
Tapi lupa diri malah membenamkanmu
Dikedalaman cermin itu
Lalu pelan-pelan hanyut ke laut lepas
Dan dibalik cermin itu
Satu sorot mata lain tak berhenti memandangimu
Calang - NAD, 29 September 2013

Senin, 06 Mei 2013

SAAT KEHILANGANMU





Tak banyak sisa cerita
Yang bisa dibisikkan malam itu
Aku lihat ibu terlentang lemah tak berdaya
Sedang aku...
Hanya bisa menjagamu dari kejauhan

Aku sudah berusaha menunggang bayu
Menyusuri ribuan jarak...puluhan kota
Agar jangan tertutup sang waktu
Untuk segera sampai didepanmu

Aku tahu...
Pagi itu belum terbentuk sempurna
Mataharipun masih seperempat jarak diatas bumi
Saat aku harus menghadapi kenyataan
...Kehilanganmu...

Tubuhku lemas...
Seluruh tulangku seakan patah terurai
Langit mendadak gelap....pandanganku nanar
Degup jantung mendadak gemetar
Pandanganku kosong dan tak berdaya
Saat menatap kepergianmu
Tatapan kasih sayang seorang anak
Pada ibu yang sangat dicintainya

Ibu....
Kini tak mungkin lagi kudengar suara lembutmu
Pergimu ke alam kedamaian
Harus kuantar dengan ikhlas
Demi lapang jalan dialam sana

Tak terbayang...
Hidup tanpa hadirmu
Tangan dan mimpiku tak berhenti
Menggapai jutaan kenangan sejak masa kecil
Sampai beberapa saat lalu sebelum pergimu
Semua itu takkan mungkin sirna dalam hatiku
Sungguh....itu cinta yang tumbuh dan terus berbiak
Sesubur doa yang tak pernah mati
Sampai akhir waktuku
nanti...




Bandara Abdurrahman Saleh - Malang, 15 Maret 2013